Rabu, 15 Juni 2016

EKOFEMINIS




Oleh :
 Muhammad Robet Husaini
Dosen Pengampu:
Zulfatu Ni’mah, M.Hum

Abstrak
Sebuah gerakan dari kalangan perempuan   yang muncul di berbagai tempat di seluruh dunia dari berbagai macam profesi  yaitu karena adanya ketidakadilan kepada semua perempuan yang seringkali dikaitkan dengan alam dinamakan ekofeminis. Keterkaitan antara perempuan dengan perempuan seringkali diartikan dua hal yang sangat erat dean dekat. Ketika terjadi  kerusakan alam yang menjadi pihak yang beresiko terkena dampaknya adalah perempuan karena tidak ada kenetralan gender. Ada berbagai peran yang dilakukan perempuan dalam lingkungan hidup di berbagai negara.  Permpuan feminis yang sadar terhadap eksploitasi alam akan membuat mereka berdiri beperan dalam menyelamatkan lingkungan hidup yang pada akhirya akan tercipta kehidupan yang eco-friendly, yaitu dengan empat terhadap perempuan dalam perberan dengan longkungan hidup.
Kata kunci : ekofeminis, tranformatif, opresi, feminis, maskulin dan gender.

Ekofeminisme dan aliranya
Didalam studi feminisme ada teori ekofeminisme yaitu cabang teori feminis yang menjelaskan keterkaitan antaraperempuan dengan alam ( lingkugan hidup). Dalam hal ini difokuskan pada kerusakan alam  yang mempunyai keterkaitan langsung  dengan teropresinya perempuan.  Munculnya teori ekofeminisme ini  adalah akibat dari ketidakpuasan pada perkembangan ekologi dunia yang makin lama makin buruk. Kemunculan teori ekofeminisme ini adalah karena para perempuan yang menganggap jika ingin ada kesetaraan gender maka perempuan harus masuk pada dunia maskulin, akantetapi para perempuan  dalam faktanya membuang sifat-sifat feminis yang diberikan dari tuhan. Adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan diakui betul oleh para penganut ekofeminisme, dan para perempuan menginginkan diperlakukan berbeda dari laki-laki yang karena perempuan memiliki sifat feminis dan tidak bagi laki-laki. Dengan begitu teori ekofeminisme ini bertolak belakang dengan teori-teori feminisme yang muncul sebelunya. Jika pada teori-teori feminisme yang sebelumnya seperti feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme psikoanalisa para aktifis feminis menuntut kesetaraan gender tetapi para penganut ekofeminisme para perempuan sudah bisa menerima keadaan bahwa ada perbedaan antar laki-laki dan perempuan, dan para penganut ekofeminisme ingin menonjolkan kefeminisanya.

Ekofeminisme Spiritual
Adalah starhwak salah satu tokoh yang menganut ekofeminisme yang  menekankan hubungan perempuan dengan alam bahwasanya ada kesamaan antara karya alam dengan karya perempuan. Starhwak berpendapat bahwa perempuan mempunyai tubuh yang unik, yaitu mengalami kehamilan, menyusui, menstruasi.  Maka dari itu perempuan mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai laki-laki dan mengetahui apa yang tidak diketahui laki-laki. Para penganut ekofeminis spiritual mengharuskan diri melepaskan dari perilaku-perilaku maskulin yang dimilikinya kemudian pergi ke alam untuk menjajal spiritualitas yang membumi. Penganut ekofeminisme tidak mementingkan religi ataupun agama yang dia jalankan.  Kemudian Starhawk mempunyai tiga konsep inti
1.      Imanensi
Bahwasanya semua makluk hidup memiliki nilai, dan semua makluk sadar bahwa ia memiliki kekuatan. Adalah kekuatan dari dalam bukan kekuatan atas yaitu kekuatan inhern yang dapat menjadikan kita seperti apa yang seharusnya, sperti kekuatan yang ada pada sebiji benih yang dapat tumbuh untuk dapat berakar, lalu tumbuh, kemudian, berbunga, hingga berbuah.
2.      Saling berhubungan
Nalar yang kita miliki adalah alamiah sperti halnya tubuh kita. Starhawk menekankan bahwa muatan manusia atas loyalitas dan conta, kemarahan dan humor, intuisi, nafsu, simpati, intelek merupakan bagian dari alam yang manusia  miliki dan memiliki hubungan langsung dengan alam, seprti siklus dari alam, tumbuhan, dan binatang.
3.      Gaya hidup peduli
Gaya hidup peduli adalah ada pada diri dan identik dengan gaya hidup perempuan. Menurut starhawk dengan menggunakan gaya hidup yang peduli ini manusia dapat merajut ulang dunia atau menyembuhan luka. Dengan kepadulian inilah alam akan terjaga dan terawat.

Ekofeminis Alam
Parra penganut dalam ekofeminisme alam ini memperkuat dan menekankan pada hubungan bahwa perempuan memiliki keterkaitan dan hubungan yang erat dengan alam. Para penganut ekofeminisme menyakini bahwasanya sifat-sifat yang secara tradisional dihubungkan dengan perempuan sepert merawat, mengasuh, intuisi bukanlah hasil dari kontruksi kultural sebagai pruduk dari pengalaman aktual psikologis dan biologis perempuan. Tapi manusia yang berpaham androposentris  menganggap lemah   demikian terjadi opresi. Para penganut ekofeminisme alam menolak akan inferioritas yang diasumsikan pada alam dengan perempuan dan superioritas yang diasumsikan pada laki-laki. Padahal perempuan dan alam dapat meberikan dorongan pada hubungan sosial yang lebih baik, tidak terlalu agrisif.

Ekofeminisme Transformatif
Dari feminisme sosialislah aliran ekofeminisme ini berakar. Menurut Warren pemikiran sosialis paling dekat memberikan dasar teoritis untuk melaksanakan ekofeminisme daripada cabang pemikiran feminis liberal, marxis, dan radikal. Feminisme sosialis diharapkan untuk lebih komprehensif dengan menjadi feminisme transformatif. Ekofeminis transformatif  mempunyai enam karakteristik yaitu pertama, Feminisme transformatof mengakui saling keterkaitan antara semua sistem operasi. Kedua, Feminisme transformatif menekankan keberagaman pengalaman perempuan. Ketiga, Feminisme transformatif menolak logika dominasi. Keempat, Feminisme transformatif memikirkan ulang apa artinya jadi manusia dan secara terus menerus membangun kesadaran. Kelima, Feminisme transformatif bergantung pada etika yang menekankan nilai-nilai feminim tradisional yang cenderung menjalin, saling menghubungkan, dan menyatukan manusia. Keenam, Feminisme transformatif berpendapat bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi hanya dipergunakan untuk menjaga kelangsungan bumi.
Adalah Mies dan Shiva tokoh dalam aliran ekofeminis transformatif ini. Sebagai bukti kepedulian Mies dan Shiva dalam memperhatikan ekologi lingkungan adalah dengan melakukan aksi memeluk pohon yang dilakukan Shiva pada tahun 1974, sebagai protees dan untuk mengingatkan mesin-mesin pemotorng pohon agar berhenti menebang dan sebagai upaya menyelamatkan ribuan kilometer eaduk. Karena para perempuan ini percaya bahwa hutan secara rumit berhubungan dengan ekonomi pedesaan dan rumah tangga mereka. Dengan penyediaan makanan, bahan bakar, cadangan makanan, produk untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sebagai sumber pendapata. Perempuan yang memeluk pohon tersebut siap mato agar mempertahankan tumbuhan indigenous (sejenis tumbuhan kecil di India). Yang pada saat itu ingin ditebang dan akan diganti dengan pohon yang besar agar lebih bernilai ekonomis sebagai komoditas

Kesimpulan
Ekofeminisme alam yaitu Berusaha memperkuat bahwa sifat sifat yang dihubungkan dengan perempuan bukan semata-mata hasil konstruksi kultural namun juga produl dari pengalaman aktual biologis dan psikologis. Kemudian ekofeminisme spiritual yaitu Menghilankan penekanan hubungan perempuan alam  makhluk hidup adalah alamiah dan juga kultural, sedangkan ekofeminisme transformatif yaitu pertama,  mengakui dan mengeksplisitkan saling keterkaitan antara semua sitem opresi. Kedua,  menekankan keberagaman pengaman perempuan dan pengalaman bersamanya. Ketiga, menolak logika dominasi. Keempat, memikirkan ulang apa artinya menjadi manusia, dan denganpenuh keberanianmempertimbangkan kebali apakah manusia harus memandang “kesadaran” (dan rasionalitas), tidak saja sebagai pembeda manusia dari bukan-manisoa, tetapi juga menjadikan manusia lebih baik daripada bukan manusia. Kelima, bergantung pada etika yang menekankan nilai-nilai “feminim” tradisional yang cenderung untuk menjalin, saling menghubungkan dan menyatukan manusia. Keenam, berpendapat bahwa ilmu pengetajuan dan teknologi hanya dipergunakan untuk menjaga kelangsungan bumi.


Daftar Rujukan
Buntaran, Fredy. 1996. Saudari Bumi Saudara Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Humm, Maggie. 2002. Ensiklopedia Feminisme. Terjemahan Mundi Rahayu. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.
Shiva, Vandana dan Maria Mies. 2005. Ecofeminism Perspektif Gerakan Perempuan dan Lingkungan. Alih Bahasa oleh Kelik Ismunanto. Yogyakarta: IRE Press.
Juornal Ekofeminisme Dan Peran Perempuan Dalam Lingkungan. Oleh : Tri Marhaeni Pudji Astuti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar