Oleh :
Muhammad Robet Husaini
Dosen Pengampu:
Zulfatu Ni’mah,
M.Hum
Abstrak
Sebuah gerakan
dari kalangan perempuan yang muncul di berbagai tempat di seluruh
dunia dari berbagai macam profesi yaitu
karena adanya ketidakadilan kepada semua perempuan yang seringkali dikaitkan
dengan alam dinamakan ekofeminis. Keterkaitan antara perempuan dengan perempuan
seringkali diartikan dua hal yang sangat erat dean dekat. Ketika terjadi kerusakan alam yang menjadi pihak yang
beresiko terkena dampaknya adalah perempuan karena tidak ada kenetralan gender.
Ada berbagai peran yang dilakukan perempuan dalam lingkungan hidup di berbagai negara. Permpuan feminis yang sadar terhadap
eksploitasi alam akan membuat mereka berdiri beperan dalam menyelamatkan
lingkungan hidup yang pada akhirya akan tercipta kehidupan yang eco-friendly,
yaitu dengan empat terhadap perempuan dalam perberan dengan longkungan hidup.
Kata kunci :
ekofeminis, tranformatif, opresi, feminis, maskulin dan gender.
Ekofeminisme
dan aliranya
Didalam studi
feminisme ada teori ekofeminisme yaitu cabang teori feminis yang menjelaskan
keterkaitan antaraperempuan dengan alam ( lingkugan hidup). Dalam hal ini
difokuskan pada kerusakan alam yang
mempunyai keterkaitan langsung dengan
teropresinya perempuan. Munculnya teori
ekofeminisme ini adalah akibat dari ketidakpuasan
pada perkembangan ekologi dunia yang makin lama makin buruk. Kemunculan teori
ekofeminisme ini adalah karena para perempuan yang menganggap jika ingin ada
kesetaraan gender maka perempuan harus masuk pada dunia maskulin, akantetapi
para perempuan dalam faktanya membuang
sifat-sifat feminis yang diberikan dari tuhan. Adanya perbedaan antara
laki-laki dan perempuan diakui betul oleh para penganut ekofeminisme, dan para
perempuan menginginkan diperlakukan berbeda dari laki-laki yang karena
perempuan memiliki sifat feminis dan tidak bagi laki-laki. Dengan begitu teori
ekofeminisme ini bertolak belakang dengan teori-teori feminisme yang muncul
sebelunya. Jika pada teori-teori feminisme yang sebelumnya seperti feminisme
liberal, feminisme radikal, feminisme psikoanalisa para aktifis feminis
menuntut kesetaraan gender tetapi para penganut ekofeminisme para perempuan
sudah bisa menerima keadaan bahwa ada perbedaan antar laki-laki dan perempuan,
dan para penganut ekofeminisme ingin menonjolkan kefeminisanya.
Ekofeminisme Spiritual
Adalah starhwak
salah satu tokoh yang menganut ekofeminisme yang menekankan hubungan perempuan dengan alam
bahwasanya ada kesamaan antara karya alam dengan karya perempuan. Starhwak
berpendapat bahwa perempuan mempunyai tubuh yang unik, yaitu mengalami
kehamilan, menyusui, menstruasi. Maka
dari itu perempuan mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai laki-laki dan
mengetahui apa yang tidak diketahui laki-laki. Para penganut ekofeminis
spiritual mengharuskan diri melepaskan dari perilaku-perilaku maskulin yang
dimilikinya kemudian pergi ke alam untuk menjajal spiritualitas yang membumi.
Penganut ekofeminisme tidak mementingkan religi ataupun agama yang dia
jalankan. Kemudian Starhawk mempunyai
tiga konsep inti
1.
Imanensi
Bahwasanya semua makluk hidup memiliki nilai, dan semua makluk
sadar bahwa ia memiliki kekuatan. Adalah kekuatan dari dalam bukan kekuatan
atas yaitu kekuatan inhern yang dapat menjadikan kita seperti apa yang
seharusnya, sperti kekuatan yang ada pada sebiji benih yang dapat tumbuh untuk
dapat berakar, lalu tumbuh, kemudian, berbunga, hingga berbuah.
2.
Saling berhubungan
Nalar yang kita miliki adalah alamiah sperti halnya tubuh kita.
Starhawk menekankan bahwa muatan manusia atas loyalitas dan conta, kemarahan
dan humor, intuisi, nafsu, simpati, intelek merupakan bagian dari alam yang
manusia miliki dan memiliki hubungan
langsung dengan alam, seprti siklus dari alam, tumbuhan, dan binatang.
3.
Gaya hidup peduli
Gaya hidup peduli adalah ada pada diri dan identik dengan gaya
hidup perempuan. Menurut starhawk dengan menggunakan gaya hidup yang peduli ini
manusia dapat merajut ulang dunia atau menyembuhan luka. Dengan kepadulian
inilah alam akan terjaga dan terawat.
Ekofeminis Alam
Parra penganut
dalam ekofeminisme alam ini memperkuat dan menekankan pada hubungan bahwa
perempuan memiliki keterkaitan dan hubungan yang erat dengan alam. Para
penganut ekofeminisme menyakini bahwasanya sifat-sifat yang secara tradisional
dihubungkan dengan perempuan sepert merawat, mengasuh, intuisi bukanlah hasil
dari kontruksi kultural sebagai pruduk dari pengalaman aktual psikologis dan
biologis perempuan. Tapi manusia yang berpaham androposentris menganggap lemah demikian terjadi opresi. Para penganut
ekofeminisme alam menolak akan inferioritas yang diasumsikan pada alam dengan
perempuan dan superioritas yang diasumsikan pada laki-laki. Padahal perempuan
dan alam dapat meberikan dorongan pada hubungan sosial yang lebih baik, tidak
terlalu agrisif.
Ekofeminisme Transformatif
Dari feminisme sosialislah aliran ekofeminisme ini berakar. Menurut Warren pemikiran sosialis paling dekat memberikan dasar teoritis
untuk melaksanakan ekofeminisme daripada cabang pemikiran feminis liberal,
marxis, dan radikal. Feminisme sosialis diharapkan untuk lebih komprehensif
dengan menjadi feminisme transformatif. Ekofeminis transformatif mempunyai enam karakteristik yaitu pertama,
Feminisme transformatof mengakui saling keterkaitan antara semua sistem
operasi. Kedua, Feminisme transformatif menekankan keberagaman
pengalaman perempuan. Ketiga, Feminisme transformatif menolak logika
dominasi. Keempat, Feminisme transformatif memikirkan ulang apa
artinya jadi manusia dan secara terus menerus membangun kesadaran. Kelima,
Feminisme transformatif bergantung pada etika yang menekankan nilai-nilai
feminim tradisional yang cenderung menjalin, saling menghubungkan, dan
menyatukan manusia. Keenam, Feminisme transformatif berpendapat bahwa
ilmu pengetahuan dan teknologi hanya dipergunakan untuk menjaga kelangsungan
bumi.
Adalah Mies dan Shiva tokoh
dalam aliran ekofeminis transformatif ini. Sebagai bukti kepedulian Mies dan
Shiva dalam memperhatikan ekologi lingkungan adalah dengan melakukan aksi
memeluk pohon yang dilakukan Shiva pada tahun 1974, sebagai protees dan untuk
mengingatkan mesin-mesin pemotorng pohon agar berhenti menebang dan sebagai
upaya menyelamatkan ribuan kilometer eaduk. Karena para perempuan ini percaya
bahwa hutan secara rumit berhubungan dengan ekonomi pedesaan dan rumah tangga
mereka. Dengan penyediaan makanan, bahan bakar, cadangan makanan, produk untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sebagai sumber pendapata. Perempuan yang
memeluk pohon tersebut siap mato agar mempertahankan tumbuhan indigenous (sejenis
tumbuhan kecil di India). Yang pada saat itu ingin ditebang dan akan diganti
dengan pohon yang besar agar lebih bernilai ekonomis sebagai komoditas
Kesimpulan
Ekofeminisme
alam yaitu Berusaha memperkuat bahwa
sifat sifat yang dihubungkan dengan perempuan bukan semata-mata hasil
konstruksi kultural namun juga produl dari pengalaman aktual biologis dan
psikologis. Kemudian ekofeminisme spiritual yaitu Menghilankan penekanan
hubungan perempuan alam makhluk hidup
adalah alamiah dan juga kultural, sedangkan ekofeminisme transformatif yaitu
pertama, mengakui dan
mengeksplisitkan saling keterkaitan antara semua sitem opresi. Kedua, menekankan keberagaman pengaman perempuan dan
pengalaman bersamanya. Ketiga, menolak logika dominasi. Keempat, memikirkan
ulang apa artinya menjadi manusia, dan denganpenuh keberanianmempertimbangkan
kebali apakah manusia harus memandang “kesadaran” (dan rasionalitas), tidak
saja sebagai pembeda manusia dari bukan-manisoa, tetapi juga menjadikan manusia
lebih baik daripada bukan manusia. Kelima, bergantung pada etika yang
menekankan nilai-nilai “feminim” tradisional yang cenderung untuk menjalin,
saling menghubungkan dan menyatukan manusia. Keenam, berpendapat bahwa
ilmu pengetajuan dan teknologi hanya dipergunakan untuk menjaga kelangsungan
bumi.
Daftar Rujukan
Buntaran, Fredy. 1996.
Saudari Bumi Saudara Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Humm, Maggie. 2002.
Ensiklopedia Feminisme. Terjemahan Mundi Rahayu. Yogyakarta: Fajar Pustaka
Baru.
Shiva, Vandana dan
Maria Mies. 2005. Ecofeminism Perspektif Gerakan Perempuan dan Lingkungan. Alih
Bahasa oleh Kelik Ismunanto. Yogyakarta: IRE Press.
Juornal Ekofeminisme
Dan Peran Perempuan Dalam Lingkungan. Oleh : Tri Marhaeni Pudji Astuti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar