Sabtu, 23 April 2016

tugas UTS Mata Kuliah Feminisme

                                                       Kehidupan Perempuan yang teropresi

Dia adalah seorang wanita berumur  empat puluh  tahun +, mempunyai dua anak, laki-laki semua. Anak yang pertama sekarang berumur dua puluh satu tahun. Anak yang kedua sekarang kelas 9 (duduk di bangku SMP).  Anak pertama sekarang sudah meninggal dunia. Dia meninggal dunia karena mengalami kecelakaan ketika ada kegiatan praktek bongkar pasang mesin mobil di salah satu SMK di kabupaten Tulungagung. Singkat cerita ketika kegiatan  praktek bongkar pasang mesin anak itu tertimpa mesin mobil yang sangat berat,  tepatnya dibagian dada dan perut. Ketika itu dia masih duduk di kelas dua SMK.  Dari waktu ini lah dia (wanita yang menurut saya mengalami opresi) sebut saja namanya  CINTA mengalami beban mental karena telah ditinggal anak kesanganya yang sangat masih muda. Anak ini mempunyai prestasi  yang baik sebagai pemain sepak bola terbaik di desanya, tidak hanya itu dia juga mewakili kota Tulungagung  dalam kompetisi sepak bola junior di seluruh kota yang ada dijawa timur.
                CINTA sebagai seorang ibu merasa terpukul dan sangat sedih setelah ditinggal anak tercintanya. Suami CINTA pun juga mengalam hal yang sama. Tidak hanya itu, semenjak ditinggal anaknya suami cinta mengalami stress berat. Dia tidak semangat lagi menjalani kehidupan ini. Suami CINTA watakya menjadi Kasar,  dan suka bermalas-malasan dalam menjalani hidup. CINTA pun merasa teropresi  karena suaminya tidak seperti yang dulu lagi. Suaminya sekarang tidak mau kerja, akibatnya CINTA yang bekerja untuk membiyayai kehidupan dan menyekolahkan anaknya yang sekarang masih di SMP. Tiap harinya CINTA sering bertengkar dengan suaminya . sang suami mencari uang untuk dirinya sendiri, dan CINTApun mencari uang juga untuk dirinya sendiri.   CINTA sekarang bekerja sebagai tukang bordir dan obras. Suaminya CINTA ini ketika bertengkar tidak pernah berlaku kasar seperti memukul dan lain sebagainya, hanya saja perataan-pekataanya yang sering kali kasar dan menyakiti hati si CINTA.  Dengan cara betengakar inilah CINTA melakukan perlawanan.

Sekian lama berlangsung keadaan mulai berubah. Sang suami tidak lagi kasar, dan mengajak bertengkar. CINTA pun juga sudah berubah menjadi baik lagi sikapnya kepada suami. Sekarang CINTA pun ketika berangkat kerja diantar dan di jemput oleh sang suami.  Kehidupan suami istri yang dulu setiap harinya dihiasi dengan pertengkaran sekarang menjadi harmonis kembali.  Dalam kehidupan CINTA ini jika dilihat dari kacamata  feminnisme radikal bahwasanya sang istri juga mampu membukitkan  bekerja mencari uang sendiri dan membiyayai anaknya untuk sekolah.  Mampu menjalani hidup meskipun sang suami ditak perduli lagi dengannya. Seperti yang Horney katakan bahwa perempuan yang berperan sebagai penggerak dan pengguncang adalah mereka yang berjuang untuk keseinbangan diantara tiga karakter penarik, yakni penarik yang tidak menonjolkan diri, penarik memendam diri dan penarik yang ekspansif. Dalam pendangan Horney, perempuan sebagai diri yng ideal pun digambarkan sebagai perempuan yang didalam dirinya mencakngkup sifat-sifat mskulin dan feminin. 

Sabtu, 02 April 2016

Artikel Pendek Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Feminisme

Matrilinial di Minangkabau
Di Indonesia tepatnya provinsi Sumatra Barat ternyata ada suku bangsa yang menganut sistem matriarki. Sistem matriarki adalah suatu sistem yang menjadikan perempuan sebagai pemimpin, baik itu di dalam suatu kelompok, masyarakat, ataupun keluarga.  Disini wanita memiliki derajat yang tinggi dan pengaruhnya yang sangat besar dan ini ada di Indonesia. Suku  Minangkabau adalah salah satu suku di Indonesia yang menggunakan sistem matrilineal baik dalam hal pernikahan, persukuan, warisan, dan lain sebagainya. adat dan budaya disana memberlakukan sosok perempuan sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan.
Matrilinial adalah suatu adat dalam masyarakat yang mengatur masyarakat dari pihak perempuan yitu ibu. Matrilinial berasal dari bahasa latin yaitu dari kata mater yang artinya ibu dan linia yang artinya garis. Jadi metrilinial adalah mengikuti garis keturunan yang diambil dari pihak ibu. kata matrilinial kerap kali disamakan dengan kata matriarkat atau matriarkhi. Matriliarkhat sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu mater yang artinya ibu, dan archein yang artinya memerintah. Jadi matriarkhi adalah kekuasaan dipegang oleh perempuan atau ibu.[1]
Jika dilihat menggunakan kacamata salah satu aliran dalam feminisme yaitu feminisme radikal bahwasanya keberadaan sistem matriarki yang ada di minangkabau ini menunjukkan bahwa perempuan terbukti mampu menjadi pemimpin seperti halya laki-laki memimpin. Feminisme radikal meyakini bahwasanya pengertian paling mendalam mengenai keadaan perempuan telah dibentuk dan diselewengkan oleh laki-laki. Para feminisme radikal meinginkan suatu pemahamn yang baru mengenai apa artinya menjadi perempuan, dan suatu cara yang sama sekali baru  untuk hidup bagi perempuan didalam dinia kita.[2] Feminisme radikal ingin membuktikan bahwasanya perempuan juga mampu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh laki-laki. Ada juga yang mengatakan bahwa para kaum feminisme radikal mampu hidup tanpa laki-laki.
Semua orang pasti setuju dengan kata kata keadilan, kesetaraan, sederajat. Semua punya hak yang sama, baik itu hak dalam berpendapat, hak untuk vote, hak dalam berpolitik, hak pendidikan dan lain sebagainya. Bagiamanapun juga manusia adalah hewan biologis. Kondisi biologis inilah yang menentukan kelangsungan hidup manusia. Manusia dari dulu sampai sekarang hidup dengan sitem patriarki dan itu tak ada problem apa-apa. Sistem patriarki inilah yang membuat manusia bertahan hidup sampai sekarang. Pasti ada alasan lain kenapa sitem patriarki lebih banyak digunakan dari pada matriarki.
Adanya Feminisme radikal meyebabkan terhambatnya kelangsungan hidup manusia, populasi manusia akan menurun. Bagaimana tidak, para feminisme radikal lebih memilih hubungan lesbian dari pada hubungan normal, lantas bagamana dengan populasi manusia nantinya. Jika para feminisme radikal menggunakan jasa bank sperma untuk mempunyai keturunan, itupun akan bermasalah. Bayangkan saja seandinya ada seratu wanita yang ingin mempunyai keturunan dengan cara mengambil sperma di bank, dimana seratus wanita itu menggunakan sperma yang sama (sperma laki-laki yang sama), kemudian lahirlah seratus anak dengan bapak yang sama, kemudian anak itu tumbuh dewasa, dan dari seratus anak ada yang jatuh cinta kemudian menikah dan mempunyai anak. Dimana akibat dari pernikahan sedarah, Kesehatan Anak  pasti akan bermasalah. Penelitian-penelitian secara populasional menunjukkan bahwa anak hasil dari perkawinan sedarah akan memiliki resiko yang besar menderita penyakit genetik tertentu.
Coba bayangkan Seandainya sistem matriarki ini berlaku diseluruh dunia pasti kaum laki-laki juga akan menuntut hak kesetaraan gender seperti apa yang di lakukan para feminis sekarang. Jadi sama saja antara hidup dengan sitem patriarki ataupun matriarki, sama-sama bermasalah. Lantas seharusnya sistem yang bagaimana yang baik untuk kehidupan manusia.???




[1] Matrilinial, wikipedia bahasa Indonesia Enslikopedi Bebas 02/04/2016
[2] Mengutip dari buku, Linda Smith dan  William Raeper, IDE-IDE filsafat dan agama, dulu dan sekarang. Penerbit kanisius. Hal 229

Jumat, 01 April 2016

Susahnya menulis tuh disini !!!

Siapa yang suka menulis ? yang pasti bukan aku. Tak tau kenapa aku gak suka menulis. Tapi aku gemar membaca loo,,,. Buku yang sering aku baca itu yang berBau-bau filsafat, kalo kamu tanya kenapa? ya karena menyesuaikan jurusan.  Aku suka membaca buku-buku sejarah, epistemologi, peradaban dunia, pokoknya yang bernuansa intelektual githu lah.
Kata orang bilang yaitu para writer, menulis itu dapat menghasilkan uang, bisa menjadi kerjaan sampingan yang lumayan menghasilkan uang. Ada juga yang bilang kalo menulis itu bisa jadi artis. Keren juga ya kalo jadi penulis. Disini aku mau curhat tentang pemasalahan-permasalahanku dalam menulis, dan mungkin ini adalah tulisan pertamaku. Tulisanku ini sekaligus untuk memenuhi tugas dari dosenku.
Dosenku memberi tugas yaitu suruh menulis tentang “problem-problemu ketika menulis”.  kira-kira apa yaa ? dari sini aku mulai berfikir dan mencari-cari masalah apa saja yang membuat aku tidak bisa menulis.  Ternyata banyak hal yang menghambat saya untuk menulis, yang
Pertama adalah soal waktu. Mungkin aku ini kurang motivasi atau dasarnya pemalas. Hari-hariku selalu sibuk dengan kerjaan, selesei kerja harus setoran hafalan qur’an malamnya harus  madrasah dan tidak terfikirkan samasekali untuk mencoba menulis. Aku punya hobi membuat baju hem, kaos, dan sekarang lagi belajar membuat baju kebayak, tapi sayang aku tak punya hoby menulis. Seandainya aq juga punya hoby menulis, mungkin hari-hariku akan habis untuk menulis.  
Penyebab kedua adalah aku selalu tidak PD dengan ide judul yang aku punya. Ketika ada tugas menulis bebas dari sekolah selalu bingung dengan judulya. Kira-kira judul ini menarik nggak ya? Bagus nggak ya? Tulisanku berkualitas atau nggak ya.? Buat judul aja udah kebingungan apalagi ketika menulis isinya nanti. Ah benar-benar payah sekali aku ini.
Yang ketiga adalah memenuhi persyaratan jumlah maksimal kata. Terkadang dosen ketika memberi tugas kepada mahasiswanya selalu memberi jumlah minimal kata. Ada yang minimal jumlah nya seribu kata, kalo nggak gitu minimal tiga halaman. Aku suka benci dengan aturan-aturan seperti itu, apalagi aku ini masih kategori penulis pemula. Nulis satu paragrab aja udah susah dan membutuhkan waktu yang lama apa lagi diberi beban minimal jumlah kata, tambah pusingin kepala aja.
Mungkin hanya itu masalah-masalahku dalam penulis yang terlintas dikepalaku. Hanya segini yang bisa aku tulis alias belum bisa nulis yang panjang-panjang, dan mungkin aku akan mencoba untuk ajeg menulis, doakan yaa.!! Keren juga kalo aq bisa menjadi penulis terkenal seperti Andrea Hirata, Habiburrahman, dll yang tulisanya bisa difilmkan. Bisa jadi artis tentunya. Terima kasih telah membaca tulisan aku. 
Wassalamu’alaikum wr.wb