Sabtu, 02 April 2016

Artikel Pendek Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Feminisme

Matrilinial di Minangkabau
Di Indonesia tepatnya provinsi Sumatra Barat ternyata ada suku bangsa yang menganut sistem matriarki. Sistem matriarki adalah suatu sistem yang menjadikan perempuan sebagai pemimpin, baik itu di dalam suatu kelompok, masyarakat, ataupun keluarga.  Disini wanita memiliki derajat yang tinggi dan pengaruhnya yang sangat besar dan ini ada di Indonesia. Suku  Minangkabau adalah salah satu suku di Indonesia yang menggunakan sistem matrilineal baik dalam hal pernikahan, persukuan, warisan, dan lain sebagainya. adat dan budaya disana memberlakukan sosok perempuan sebagai pewaris harta pusaka dan kekerabatan.
Matrilinial adalah suatu adat dalam masyarakat yang mengatur masyarakat dari pihak perempuan yitu ibu. Matrilinial berasal dari bahasa latin yaitu dari kata mater yang artinya ibu dan linia yang artinya garis. Jadi metrilinial adalah mengikuti garis keturunan yang diambil dari pihak ibu. kata matrilinial kerap kali disamakan dengan kata matriarkat atau matriarkhi. Matriliarkhat sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu mater yang artinya ibu, dan archein yang artinya memerintah. Jadi matriarkhi adalah kekuasaan dipegang oleh perempuan atau ibu.[1]
Jika dilihat menggunakan kacamata salah satu aliran dalam feminisme yaitu feminisme radikal bahwasanya keberadaan sistem matriarki yang ada di minangkabau ini menunjukkan bahwa perempuan terbukti mampu menjadi pemimpin seperti halya laki-laki memimpin. Feminisme radikal meyakini bahwasanya pengertian paling mendalam mengenai keadaan perempuan telah dibentuk dan diselewengkan oleh laki-laki. Para feminisme radikal meinginkan suatu pemahamn yang baru mengenai apa artinya menjadi perempuan, dan suatu cara yang sama sekali baru  untuk hidup bagi perempuan didalam dinia kita.[2] Feminisme radikal ingin membuktikan bahwasanya perempuan juga mampu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh laki-laki. Ada juga yang mengatakan bahwa para kaum feminisme radikal mampu hidup tanpa laki-laki.
Semua orang pasti setuju dengan kata kata keadilan, kesetaraan, sederajat. Semua punya hak yang sama, baik itu hak dalam berpendapat, hak untuk vote, hak dalam berpolitik, hak pendidikan dan lain sebagainya. Bagiamanapun juga manusia adalah hewan biologis. Kondisi biologis inilah yang menentukan kelangsungan hidup manusia. Manusia dari dulu sampai sekarang hidup dengan sitem patriarki dan itu tak ada problem apa-apa. Sistem patriarki inilah yang membuat manusia bertahan hidup sampai sekarang. Pasti ada alasan lain kenapa sitem patriarki lebih banyak digunakan dari pada matriarki.
Adanya Feminisme radikal meyebabkan terhambatnya kelangsungan hidup manusia, populasi manusia akan menurun. Bagaimana tidak, para feminisme radikal lebih memilih hubungan lesbian dari pada hubungan normal, lantas bagamana dengan populasi manusia nantinya. Jika para feminisme radikal menggunakan jasa bank sperma untuk mempunyai keturunan, itupun akan bermasalah. Bayangkan saja seandinya ada seratu wanita yang ingin mempunyai keturunan dengan cara mengambil sperma di bank, dimana seratus wanita itu menggunakan sperma yang sama (sperma laki-laki yang sama), kemudian lahirlah seratus anak dengan bapak yang sama, kemudian anak itu tumbuh dewasa, dan dari seratus anak ada yang jatuh cinta kemudian menikah dan mempunyai anak. Dimana akibat dari pernikahan sedarah, Kesehatan Anak  pasti akan bermasalah. Penelitian-penelitian secara populasional menunjukkan bahwa anak hasil dari perkawinan sedarah akan memiliki resiko yang besar menderita penyakit genetik tertentu.
Coba bayangkan Seandainya sistem matriarki ini berlaku diseluruh dunia pasti kaum laki-laki juga akan menuntut hak kesetaraan gender seperti apa yang di lakukan para feminis sekarang. Jadi sama saja antara hidup dengan sitem patriarki ataupun matriarki, sama-sama bermasalah. Lantas seharusnya sistem yang bagaimana yang baik untuk kehidupan manusia.???




[1] Matrilinial, wikipedia bahasa Indonesia Enslikopedi Bebas 02/04/2016
[2] Mengutip dari buku, Linda Smith dan  William Raeper, IDE-IDE filsafat dan agama, dulu dan sekarang. Penerbit kanisius. Hal 229

Tidak ada komentar:

Posting Komentar